Konservasi Jenis

Satu dari setiap empat spesies hewan di planet ini terancam punah karena kehilangan habitat / degradasi, eksploitasi berlebihan, polusi, penyakit, invasi spesies asing, meningkatnya populasi manusia dan ancaman karena perubahan iklim. Pendekatan yang dilakukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati secara historis berpusat pada menyelamatkan habitat dan, secara tidak langsung, melindungi spesies hidup dalam lingkungan asli (in situ).

Namun, begitu besarnya tekanan terhadap keberadaan spesies sekarang ini, berarti bahwa semua pilihan layak dipertimbangkan, termasuk mengelola secara intensif di kebun binatang dan pusat penangkaran (ex situ).

YPAL percaya bahwa krisis spesies langka ini bisa lebih baik ditangani melalui usaha lebih kooperatif melibatkan banyak institusi dan keahlian untuk mempelajari spesies yang terancam punah sebagai prioritas untuk melestarikannya.

Sampai saat ini konservasi jenis belum menjadi titik masuk bagi upaya pelestarian ekosistem, bahkan kadangkala terabaikan.

Program konservasi jenis yang dibangun YPAL berlandaskan pada konservasi jenis kunci sebagai jalan masuk untuk perbaikan ekosistem dan lingkungan secara global.


  • PROYEK GARUDA : Aksi Konservasi Elang Jawa di Kawasan Cagar Alam Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Burangrang. Jawa Barat Indonesia.
    Durasi kegiatan : 01 April 2002 sd 31 October 2003


    Mitra :  HIMBIO Unpad
    Sponsor Program :  BP Conservation Programme

    Deskripsi kegiatan :
    Proyek Garuda adalah program tindak lanjut dari penelitian elang jawa oleh YPAL yang bekerja sama dengan Himbio (Himpunan Mahasiswa Biologi) Universitas Padjadjaran sejak tahun 1998 di bagian selatan Jawa Barat. Proyek ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Pemulihan yang telah didirikan oleh Kelompok Kerja Pelestari Elang Jawa (KKPEJ). Hal itu melibatkan 65 relawan yang sebagian besar mahasiswa itu, juga masyarakat di Desa Cicadas Panaruban, Subang Kabupaten. Para relawan banyak terlibat pada pemantauan, diadakan pendidikan lingkungan dan penyiaran radio, dan juga pemantauan perilaku elang jawa, perkembangbiakan di sarangnya sendiri. Proyek ini dilakukan selama 18 bulan sejak April 2002 sampai Oktober 2003.
    Laporan ini menjelaskan hasil penelitian dan upaya konservasi burung elang jawa dan habitatnya di Cagar Alam Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu daerah Jawa Barat Indonesia. Penelitian ini dilakukan meliputi studi habitat dan perilaku perkembangbiakan dan studi singkat tentang hubungan masyarakat dan hutan.
    Upaya konservasi dilakukan terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, baik yang tinggal di pinggiran hutan atau di perkotaan untuk bersama sama menyelamatkan elang jawa dan habitatnya.

    Target kegiatan :
    Proyek Garuda tidak dapat dilaksanakan dengan baik tanpa dukungan dari berbagai pihak, seperti opini, keterampilan, waktu, atau bahkan dukungan antusias.
    Selama persiapan proyek perencanaan, kami melakukan beberapa menerangi seri diskusi. Kami senang mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wahyu Raharjaningtrah, Bapak Iwan Setiawan, Bapak Muchamad Muchtar, Mr Resit Sozer, Mr Johan Iskandar Phd dan Bapak Ridwan Soleh, juga kepada Mr Hiroshi Kaneda untuk kritik dan saran kritik selama persiapan, bahkan terus selama pelaksanaan proyek. Juga Ibu Budiawati Supangkat Phd atas saran-saran telah diberikan untuk implementasi pendidikan lingkungan.

    Mungkin itu semua hanya berencana jika kita tidak mendapatkan dukungan keuangan dan izin penelitian tentang implementasi. Kami sangat senang dan berterima kasih kepada BirdLife International, Beyond Petroleum dan Fauna & Flora Internasional untuk mendukung program kami melalui Penghargaan Konservasi BP.
    Kami juga berterima kasih untuk PILI-LSM Gerakan yang terpercaya kami dengan menggunakan dananya untuk perbaikan kamera pengintai selama studi perilaku elang jawa dalam sarangnya. Izin penelitian juga mudah untuk mendapatkan kebaikan dari Kepala Biro Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) I Jawa Barat, Kepala BKSDA Wilayah I I, Jawa Barat, Hutan Perusahaan Publik III (Perum Perhutani III) Jawa Barat dan Perusahaan Perkebunan Masyarakat (PTPN) VIII Ciater. Dan kami berterima kasih kepada pihak manajemen area untuk melakukan kegiatan di daerah mereka.

  • Survey Jenis-jenis Burung di Rawa Marga Aji Tulang Bawang, Lampung
    Durasi kegiatan : 28 June 2000 sd 06 July 2000


    Mitra :  Yayasan Masyarakat Hayati Indonesia
    Sponsor Program : 

    Deskripsi kegiatan :
    -Kawasan hutan dan rawa Tulang Bawang diupayakan untuk dipertahankan, untuk itu Yayasan Masyarakat Hayati Indonesia membuat program penyelamatan kawasan tersebut bersama masyarakat.

    -Untuk menunjang program penyelamatan dibutuhkan informasi potensi kawasan baik flora, fauna dan aspek-aspek lainnya yang bekaitan dengan upaya penyelamatan kawasan.

    -Potensi fauna di survey pada tahun 1994 terutama mengenai keberadaan avifaunanya oleh WI (dulu AWB), namun perkembangan selama lima tahun terakhir banyak terjadi perubahan, sehingga perlu dilakukan survey ulang mengenai kondisi fauna kawasan pada saat ini.

    Target kegiatan :
    Maksud dari kegiatan ini adalah untuk mengadakan survey potensi fauna di kawasan hutan dan rawa Tulang Bawang, sedangkan tujuannya adalah:
    1.Untuk menginventarisasi jenis-jenis burung

    2.Untuk menginventarisasi satwa lainnya (mamalia, primata reptilia)

    3.Untuk tukar menukar teknik inventarisasi fauna dengan masyarakat


    Hasil yang diharapkan
    1.Data keberadaan jenis-jenis burung
    2.Data keberadaan satwa lainnya (mamalia, primata, reptilia)
    3.Kesetaraan dalam teknik inventarisasi fauna untuk kawasan Tulang Bawang

  • Distribusi, Populasi dan Konservasi Gelatik Jawa dan Jalak Putih di Jawa dan Bali
    Durasi kegiatan : 10 September 1998 sd 15 June 1999


    Mitra : 
    Sponsor Program :  Fauna Flora International

    Deskripsi kegiatan :
    Proyek ini dimulai pada Oktober lalu tahun 1998 dengan persiapan sesuai jadwal sebelumnya di proposal. Persiapan yang dilakukan termasuk pengumpulan peta wilayah survei dan alat-alat dan konsultansi ahli. Ini juga yang termasuk izin pemerintah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan dan Perkebunan.
    Tim ini berkembang dari 2 orang sebelum, sekarang memiliki 3 orang dengan sejumlah siswa sebagai sukarelawan.

    Survei lapangan dan monitoring perdagangan telah dimulai sejak Oktober 1998. Lokasi-lokasi yang telah disurvei adalah: bagian dari Garut (Jawa Barat), Yogyakarta (Jawa Tengah) dan pasar burung di Bandung dan Semarang.

    Target kegiatan :
    Di Garut, kami mengamati Garut Utara dan Selatan pada November lalu hingga awal Desember 1998 dan Maret 1999.
    Kami hanya menemukan Java Sparrow di Citiis Utara Garut 3 dan 5 individu. Leuweung Sancang Cagar Alam Selatan Garut, baik Jawa Sparrow dan Black bersayap Starling tidak ada.

    Di Yogyakarta, kami survei Candi Prambanan, Ambarawa, dan Banyuwiru Ngongap pantai Oktober 1998 dengan hanya satu individu Sparrow Jawa tercatat di Candi Prambanan.

    Di pasar burung Bandung mulai bulan Oktober sampai Pebruari kami meneliti secara rutin minimal 1 kunjungan dalam sebulan, kami mencatat 10 orang Jawa Sparrow dan 1 Hitam bersayap Starling dalam rata-rata per mengunjungi masing-masing.

    Di Semarang pada bulan Oktober dan November 1998, kami mencatat satu Black-bersayap Starling dan sekitar 24-100 Java Sparrow.

    Poin-poin kegiatan akan diselenggarakan
    adalah
    1.Survei lapangan untuk bagian lain dari Garut, Cikepuh Cagar Alam, Nusa Kambangan, Gn Beser, Malang dan Surabaya (Jawa Timur) dan Bali.

    2. Pembuatan bahan penyuluhan konservasi gelatik jawa.

  • Status, Distribusi, Populasi, Ekologi dan Konservasi Elang Jawa Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924. Di bagian selatan Jawa Barat
    Durasi kegiatan : 02 March 1998 sd 30 June 1999


    Mitra :  HIMBIO Unpad
    Sponsor Program :  BP Conservation Programme

    Deskripsi kegiatan :
    Elang Jawa Spizaetus bartelsi adalah spesies terancam pada kategori terancam punah, dan populasi saat ini adalah sangat sangat langka. Oleh karena itu, upaya konservasi sangat mendesak untuk dilakukan mengingat penurunan populasi. Data terbatas pada raptor paling terkenal di dunia masih menjadi kendala dalam upaya konservasi spesies ini. Kesadaran masyarakat yang rendah untuk mendukung upaya konservasi burung pada umumnya, dan Elang jawa konservasi khususnya, merupakan kelemahan penting.
    Selama lima belas bulan (Maret 1998 - Juni 1999) Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa (HIMBIO) Universitas Padjadjaran telah melakukan penelitian proyek dari elang jawa di beberapa situs observasional di Selatan Jawa Barat. Tujuan program ini adalah untuk mengumpulkan dan melengkapi data bio-ekologis dari elang jawa dan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk elang jawa konservasi. Program ini telah menghasilkan data tambahan pada distribusi dan populasi elang jawa di 15 catatan distribusi baru. Lokasi di mana elang jawa terdapat di sebagian besar ditemukan pada ketinggian antara 25-2.400 m dpl dengan populasi diperkirakan 59-75 pasang di semua daerah yang disurvei.

    Target kegiatan :
    - Elang Jawa telah berhasil diidentifikasi di 22 lokasi dan 15 lokasi tersebut merupakan catatan distribusi baru;

    - Spesies ini didistribusikan dari pantai sampai 2400 m dpl dengan catatan frekuensi yang paling di ketinggian antara 500-1000 m dpl;.

    - Survei tercatat 82-100 species atau sekitar 38-42 pasang dengan estimasi jumlah populasi adalah 59-75 pasang di semua daerah yang disurvei;

    - Anak elang jawa pada usia 8-30 minggu secara bertahap memiliki perilaku perkembagan seperti bergerak dari sarang sampai berburu mangsa dan semua perilaku mereka dibagi kedalam enam perkembangan perilaku utama anak elang jawa tersebut;.

    - Perilaku tersebut dikategorikan dalam lima katagori utama (istirahat, bergerak, makan, menelepon dll) yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan morfologi dan dipengaruhi oleh perawatan induknya;

    - Penelitian ini juga mencatat elang jawa memangsa delapan jenis mamalia kecil, tiga spesies burung, dan tiga spesies reptil;

    - Musim pengembangbiakan spesies ini direkam pada April-November dan berasumsi hal ini terjadi di setiap tahun;

    - Elang jawa sering terlihat di hutan alami bukan tipe habitat lainnya. Tingginya persentase kontak pada hutan alam adalah menunjukkan ketergantungan yang tinggi dari spesies ke hutan alam;

    - Sarang elang jawa telah terdeteksi di hutan alam pada pohon muncul di lereng 30-800 dpl.

    - Keberadaan elang jawa dan habitatnya sangat terancam oleh aktivitas manusia seperti perambahan hutan, perburuan, dan perdagangan ilegal. Bencana alam yang terjadi di habitat elang jawa adalah kebakaran dan tanah longsor.

  • Status, Distribusi dan Populasi dari Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) di Sulawesi, INDONESIA
    Durasi kegiatan : 31 December 1969 sd 31 December 1969


    Mitra : 
    Sponsor Program :  Pro Natura Funds

    Deskripsi kegiatan :
    Indonesia memiliki 5 (lima) spesies Spizaetus yaitu Spizaetus cirrhatus, Spizaetus bartelsi,Spizaetus lanceolatu, Spizaetus alboniger dan Spizaetus Nanus, dua di antaranya adalah endemik untuk Indonesia yaitu elang jawa dan Sulawesi Hawk-eagle (Andrew, 1992).

    Elang Sulawesi memiliki status terancam (Collar et al, 1994.), Dilindungi oleh hukum Indonesia dan endemik Sulawesi.

    Informasi yang sangat terbatas dan sangat sedikit diketahui mengenai, distribusi status dan populasi serta ekologinya.

    Hal ini sangat penting untuk mempelajari semua keluarga yang berkaitan dengan genus Spizaetus, terutama untuk endemik. The Javan Hawk-eagle studi belum berproduksi dan sudah tahu statusnya, distribusi, populasi dan beberapa informasi ekologi, tetapi Sulawesi Hawk-eagle masih sedikit diketahui. Untuk meningkatkan pemahaman genus Spizaetus, studi tentang status, distribusi dan populasi elang Sulawesi Hawk-penting dan sangat diperlukan.
    Selama survei ini kita akan meningkatkan kesadaran masyarakat lokal dengan semi-struktur wawancara tentang Sulawesi Hawk-eagle dan mudah-mudahan dapat membuka mata mereka bahwa ini Hawk-eagle adalah unik dan penting, bahwa mengapa perlu untuk menghemat segera. Alasan lain untuk melestarikan Sulawesi Hawk-eagle karena ini Hawk-eagle merupakan indikator untuk lingkungan yang baik sebagai syarat habitatnya. Sulawesi hutan sekarang dalam gangguan berat seperti dilansir Cahyadin (1996) dan Setiawan (1997).

    Target kegiatan :
    Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dari genus Spizaetus di Indonesia.

    Tujuan dari proyek ini adalah:
    a. Untuk mengidentifikasi status, distribusi dan populasi Elang Sulawesi.
    b. Untuk menggambarkan habitat dan gangguan yang ada.
    c. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan elang

    Hasil yang diharapkan dari proyek ini adalah:
    1. Pengetahuan dan informasi status, distribusi dan populasi Sulawesi Hawk-eagle
    2. Pengetahuan tentang gangguan pada elang Sulawesi
    3. Membandingkan informasi dari endemik elang di Indonesia
    4. Jaringan kerjasama dengan lembaga lokal ??dan ilmuwan
    5. Rekomendasi tindakan konservasi dan menindaklanjuti penelitian.

Copyright © 2012 Yayasan Pribumi Alam Lestari