Perdana : Mentoring Yayasan Panorama Alam Lestari Perkuat Empat Lembaga Kemanusian di Sulawesi Tengah

Tanggal 16 Juni 2025 lalu, Yayasan Panorama Alam Lestari (Y.PAL) bikin Mentoring bagi empat Peer Humanitarian Patners (PHP) untuk memperkuat peran mereka dalam aksi kemanusiaan dan kebencanaan di Sulawesi Tengah. Empat lembaga ini terdiri dari; Yayasan Ekonesia, Komunitas Peduli Perempuan dan Anak KPPA), Komunitas Celebes Bergerak (KCB) dan Tim Pengurangan Risiko Bencana Gereja Kristen Sulawesi Tengah (PRB GKST) yang datang jauh dari Kota Tentena di Poso.

Kolase Training MEAL, Safeguarding & Finance

Mentoring bukan sekedar kegiatan pelatihan biasa. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kapasitas lembaga lokal dalam hal tata kelola organisasi masyarakat sipil yang mampu beradaptasi dengan situasi global.

Mentoring kali ini berlangsung empat hari: sejak tanggal 16 Juni sampai dengan 19 Juni 2025. Tempat kegiatannya di Hotel Khas Palu- tempat yang sama saat kickoff program mentoring Y.PAL bulan Maret 2025 lalu.  

Sesi kali ini terasa berbeda. Tim Y.PAL hadir hampir secara penuh dengan persiapan yang matang. Mereka membawa pendekatan sistematis dengan materi yang terstruktur. Metodenya juga partisipatif dengan pembelajaran yang dirancang dengan pendekatan belajar orang dewasa. Tentu hal ini agar peserta mentoring tidak merasa bosan.

Bagi Y.PAL, mentoring jadi komitmen besar untuk mendorong kemampuan mitra lokal dalam merespons isu kebencanaan di Sulawesi Tengah. Tak sampai di situ saja. Mentoring juga untuk membangun ekosistem lembaga kemanusiaan yang inklusif, kuat serta berkelanjutan –sehingga langkah kolaboratif dalam merespons isu kemanusiaan bisa semakin tangguh.

Bagaimana Jalannya Mentoring?

Irfan Renggah (34) membuka kegiatan mentoring dengan santai tapi serius. Ia menjelaskan secara detail rangkaian kegiatan yang dilaksanakan empat hari ke depan. Mulai dari jadwal kegiatan, metode belajar, materi yang akan diikuti, kontrak belajar dan lain sebagainya. Irfan tak lupa mengajak semua peserta untuk saling berkenalan. Meski beberapa peserta sudah saling kenal.

Setelah membuka kegiatan, ia juga memberikan kesempatan kepada Fadhil Abdullah (31) untuk memberikan sepatah dua kata sebagai sambutan pada kegiatan ini. Sambutan Fadhil singkat, padat dan jelas. Dengan gaya khasnya yang semi formal, ia menerangkan maksud kegiatan secara terstruktur dan rapi.

Satu hal yang penting dipertebal dari penjelasan Fadhil ialah soal Mentoring. “Mentoring”, menurut Fadhil,  “Merupakan perwujudan dari semangat pelokalan”.

Bagi Fadhil, “Organisasi-organisasi lokal yang saat ini tersebar dibanyak tempat memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam merespons isu-isu kemanusiaan”

Fadhil juga bilang jika Y.PAL dulu sama seperti mereka. Organisasi lokal yang ada di Kabupaten dengan banyak keterbatasan. Tapi setelah mereka terhubung dengan program ToGETHER yang didukung oleh Caritas Germany, mereka akhirnya dapat mengembangkan organisasi lewat bekal pengetahuan yang sudah dimiliki.

Fadhil Abdullah dalam sambutannya sebelum training dilakukan. 16/06/2025
(FOTO : Irsan Laburante)

Saat ini Y.PAL juga mau melakukan hal yang sama. Meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga lokal agar bisa setara bahkan lebih maju lagi. Lewat program yang sama (ToGETHER) Y.PAL akan mentransfer pengetahuan yang pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Semangatnya Shifting Power; mentranfer pengetahuan. Karena bagi Fadhil, kompleksitas bencana dengan intensitas tinggi jadi salah satu alasan kuat program mentoring ini.

“Harapannya mentoring bisa melahirkan lembaga-lembaga lokal yang tangguh, baik secara tata kelola lembaga dan keterampilan personel untuk diadaptasikan di wilayah intervensi masing-masing lembaga”. Begitu penjelasan dari Fadhil.

Setelah Fadhil memberikan sambutan, Irfan langsung mengarahkan semua peserta untuk beristirahat sejenak. Sebab sebentar lagi sesi materi akan di mulai.

Topik Monitoring, Evaluasi, Akuntabilitas dan Learning (MEAL) jadi pembuka pada mentoring kali ini. Tapi sebelum masuk pada materi MEAL, Stevandi (34) mengantar peserta dengan materi Tren Ketentuan Donor. Tujuannya satu; membangun keseragaman berpikir terkait esensi lembaga kemanusiaan di Indonesia.

Stevandi sedang menjelaskan tren ketentuan donor. 16/06/2025
(FOTO : Irsan Laburante)

Materi ini dianggap penting untuk membranstroming peserta sebelum masuk pada materi yang lebih spesifik. Sebab bagi Stevandi, penting untuk menjelaskan kepada peserta bahwa; kemajuan peradaban manusia saat ini telah berimplikasi pada perkembangan lembaga-lembaga kemanusiaan di dunia—termasuk pada aspek tata kelola kelembagaan. Harapannya para peserta dari empat lembaga itu dapat mengetahui ketentuan-ketentuan lembaga dalam membangun kerja sama dan merespons isu kemanusiaan yang ada.

Setelah hampir dua jam menjelaskan tentang tren lembaga donor, pelatihan kemudian dilanjutkan oleh Irsan Laburante (34) dengan materi MEAL.

Materi MEAL ini cukup panjang—memakan waktu hampir dua hari. Sebab, selain menerangkan soal MEAL, Irsan perlu menerangkan tools-tools penting yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam penerapan MEAL—termasuk beberapa Tools yang diterapkan Y.PAL. Meski materinya cukup panjang, Irsan tetap tampil profesional dalam pelatihan itu.

Irsan sedang menjelaskan penerapan sistem MEAL ke PHP yang hadir. 17/06/2025
(FOTO : Ririn Anggraini)

Begitu pun materi Protection from Sexual Exploitation Abuse & Harassment (PSEAH), Child Safeguarding Policy (CSG) dan Anti- Harassment, Intimidation and Bullying (AHIB) yang dibawa Irfan di hari ketiga. Ia menerangkan materi ini secara sederhana tapi mudah dipahami. Gaya pembawaan materi Irfan yang elegan tidak membuat peserta bosan mengikuti sesi ini.

Sebagian kalangan barangkali baru pertama ini mendengar istilah PSEAH, CSG dan AHIB—termasuk beberapa peserta yang mengikuti pelatihan mentoring. Hal itu tergambar saat Irfan bertanya sejauh mana peserta mengetahui tentang topik ini. Sebagian mereka terlihat bingung dengan dahi menggerutu. Mereka cepat-cepat buka handphone dan laptop untuk mencari istilah ini.

Wajar. Istilah PSEAH, CSG dan AHIB memang masih menjadi hal baru bagi sebagian besar lembaga-lembaga lokal di Indonesia. Padahal, mereka kadang hanya terjebak pada pengistilahan saja. Misalnya PSEAH atau jika disederhanakan menjadi kebijakan perlindungan dari kekerasan seksual. Begitu juga dengan CSG dalam bahasa kerennya perlindungan anak. Atau AHIB yang saban hari kita dengar; anti kekerasan/gangguan, intimidasi dan bullying. Hanya saja istilah itu perlu untuk diinstitusikan melalui kebijakan lembaga sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam tren lembaga masa kini.

Di sesi ini peserta antusias. Apalagi Irfan mengemasnya dengan gaya menarik. Dia membagi peserta menjadi dua kelompok dan memberikan pertanyaan clue untuk dijawab masing-masing kelompok. Tentu ini tidak membuat peserta jenuh—apalagi kantuk sebab materi ini dilaksanakan di saat-saat yang kritis.

Irfan Renggah memfasilitasi topik Safeguarding. 18/06/2025
(FOTO : Irsan Laburante)

Di hari terakhir kegiatan diisi dengan oleh materi pengelolaan keuangan proyek. Materi ini dibawakan oleh Ririn (27) dan Lilis (30). Mereka berdua menjelaskan materi secara bergantian tentang bagaimana pengelolaan keuangan yang baik: mulai dari penganggaran, pelaporan, dan hal-hal apa yang boleh dan tak boleh dilakukan dalam sirkulasi keuangan. Mereka juga menggambarkan bagaimana sistem pengelolaan keuangan di Y.PAL. Bukan untuk diduplikasi, tapi paling tidak bisa memberikan sedikit gambaran praktik dalam tata kelola keuangan lembaga.

Kegiatan tidak terasa monoton. Semua materi dipadukan dengan permainan-permainan agar peserta bisa lebih santai dan fokus. Main tebak-tebakan, senam, dan lain- lain masuk dalam rangkaian kegiatan agar pelatihan terasa hangat dan bersahabat.

Selepas kegiatan Y.PAL selalu buat evaluasi. Mereka secara jeli mempelajari setiap feedback yang dituliskan peserta. Jika terdapat kekeliruan, maka hal itu akan ditindaklanjuti. Tim juga membagi peran dan tanggung jawab dalam aktivitas berikutnya. Hal ini dipandang penting supaya segala tugas dapat terdistribusi secara merata pada setiap tim Y.PAL yang hadir.

Mentoring ditutup dengan menyusun rencana tindak lanjut. Masing-masing lembaga diberikan waktu untuk menuliskan rencana tindak lanjut pasca mengikuti mentoring kali ini.

Fadhil juga bilang bahwa ini mentoring  perdana. Dalam waktu dekat mereka akan merancang mentoring dengan topik yang berbeda. Ia berharap semua lembaga bisa berpartisipasi penuh seperti kali ini—atau jauh lebih baik lagi. Karena bagi dia semangat pelokalan perlu dibangun dengan keseriusan dan solidaritas yang tinggi sehingga lembaga kemanusiaan yang tangguh; “yang diharapkan itu” bisa segera terwujud di Sulawesi Tengah. Tutup Fadhil. (StV)

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *